RSS

Ketika

“Kring……!!!!!”, handphone-ku berdering untuk yang ketiga kalinya, nama yang tertera di layar masih sama “Mama XL”. Ya, ini kali ketiga dalam rentang waktu kurang dari enam jam mama menelepon dan menanyakan keberadaanku. Setan-setan yang menggelayut mesra di pundakku sedari tadi sambil membisikkan sejuta rayuan maut sepertinya sedang bergembira, setelah dua kali gagal menjebakku dalam lingkaran emosi, mereka kini berhasil menjebloskanku ke dalam lingkaran  itu. Mereka menang dan sepertinya saat ini sedang bersorak gembira, meninggalkanku tertunduk lesu, menyesali hal yang baru saja terjadi.

“Ini lagi di angkot, Ma…”, kupelankan intonasi suara, berusaha menyamarkan ketidaknyamananku atas sikap mama akhir-akhir ini yang terlalu protektif. Entah kenapa, belakangan ini sikap mama mulai berubah dari sikapnya yang cuek menjadi absolutely protektif. Sebelumnya, mama hanya meng-sms atau meneleponku satu kali saja setiap harinya, sekedar menanyakan kabar dan posisi terakhir. Biasanya aku hanya menjawab dengan satu atau dua kata saja, “Di angkot…!”, “Sudah”, atau “Iya”, dan setelah mendengar jawabanku yang super singkat, mama dengan segera menutup telepon dan membiarkanku melanjutkan kegiatan atau perjalanan. Tetapi akhir-akhir ini mama berubah, perubahan yang pelan-pelan membuatku merasa risih dan sedikit (banyak) sebal.  Sebentar-sebentar sms, menanyakan apakah aku sudah makan atau belum. Kalau sms tidak dibalas, maka mama dengan segera menelepon kemudian memberondongku dengan pertanyaan-pertanyaan lain yang membuatku segera menjauhkan telepon dari telinga sampai akhirnya yang terdengar hanya bunyi “Tuttttt”, panjang. Begitu juga saat pulang kerja, setiap tiga puluh menit sekali menanyakan posisi terakhir. Ohh, ya ampun, aku bukan lagi anak tk atau sd atau remaja tanggung yang perlu diawasi seketat ini. “Aku ini bukan anak kecil lagi Mama…!!!”, batinku berteriak lantang setiap kali mamaku bertindak seperti itu.

“Iya, ini juga mau pulang Ma…Kayak anak kecil aja deh…!”, kress, tanpa bisa di stop mulutku terlanjur mengucapkan kata-kata itu, “Kayak anak kecil aja deh”, dengan intonasi lebih tinggi dari sebelumnya. Kumpulan kalimat yang selama ini kuteriakan dalam hati saja dan diniatkan untuk tidak diucapkan, kini kadung meluncur dari mulutku. Sejenak hening menyergap dan rasa kalah dan bersalah muncul, sesebal apapun, tidak seharusnya kata dan intonasi seperti tadi keluar dari mulutku. Berondongan kalimat yang meluncur deras dari mulut mama di seberang sana, membuatku semakin merasa kalah, “ Ya udah, kalo gitu mama ga akan tanya-tanya lagi…!”, dan telepon pun ditutup, tak ada berondongan kata lagi, yang tersisa hanya nada telepon yang terputus, dan rasa sesal bercampur sebal dan kesal. Huuhhh…!!

***

“Ada apa dengan mama”, pertanyaan itu seharusnya kutanyakan dulu, saat terjadi perubahan pada sikap mama. Sayang, aku kadung merasa diriku sudah dewasa, kadung menganggap diriku sudah tahu segalanya, kadung merasa bahwa aku ini sudah mandiri, sudah bisa berdiri sendiri, dan kadung melupakan sesuatu yang utama, kepekaan hati. Memang benar kata orang-orang, ketika seseorang merasa paling benar, maka kebenaran perlahan akan menjauhinya. Ketika seseorang merasa dirinya pintar, paling tahu segalanya, maka perlahan dia menjadi orang yang tidak tahu apa-apa. Ketika seseorang merasa dirinya paling mandiri, sudah bisa berdiri sendiri, maka dengan sendirinya yang muncul bukanlah kemandirian, melainkan kesombongan yang membutakan mata hati, mengendapkan kepekaan hati. Andai saja dulu kupertanyakan dan kucari tahu sebab dibalik perubahan sikap mama, bukannya sibuk mencecar dan menggerutu dalam hati, mungkin rasa sakitnya tidak akan sebesar ini.

***

Hari ini, Jum’at Mubbarak. Jujur saja, aku tidak mengerti dengan istilah Jum’at Mubbarak, aku hanya mengutip kalimat yang tertulis dengan apik di flyer yang menggantung di lorong-lorong stasiun. Senang saja mengutipnya. Hari ini cerah sekali, langitnya biru terang, awan putih menggantung manis, berkolaborasi menciptakan pagi yang indah.

Cahaya matahari menerobos masuk lorong-lorong stasiun, kemudian menyentuh pipiku, seketika hangat menjalari tubuhku.

Aku berjalan pelan sambil menenteng koper dan menggendong ransel. Orang-orang bergegas menuju pintu keluar, beberapa dari mereka terlihat terburu-buru, berjalan sambil sedikit-sedikit berlari. Kutengok jam tangan pemberian Ibu Lia, orangtua murid privatku dulu, kenang-kenangan katanya, dan aku mulai mengerti kenapa orang-orang itu berjalan tergesa-gesa

Hari ini aku cuti kerja. Sengaja aku ambil jatah cuti yang masih tersisa empat hari lagi untuk membereskan barang-barang pribadi di kosan baru. Ya, kosan baru, akhirnya aku memutuskan untuk kos. Alasan utamanya karena tidak tahan dengan sikap mama yang semakin hari semakin over protektif. Aku bertengkar hebat sebelum akhirnya bisa keluar rumah atas seizin ayah (sikap ini bukan berarti ayah mendukung penuh keinginanku untuk kos, melainkan mencegah terjadinya pertengkaran yang lebih besar lagi). Bayangkan, untuk pergi kos di Jakarta saja harus bertengkar hebat dulu, apalagi kalau izin pergi ke Papua, bisa-bisa baru bisa pergi jika salah satu mati.

***

Pada kenyataannya, aku harus mengakui bahwa aku memang tidak mengerti apa-apa, persis seperti yang diucapkan mama sehari sebelum aku memutuskan untuk kos. “Kamu ngga ngerti apa-apa, Ta…!”, mama berbicara dengan tegas tapi tidak galak. Emosiku meledak saat mama mengatakan bahwa aku ini tidak ngerti apa-apa. Harga diriku seperti terinjak saat mama dengan enteng mencapku tidak mengerti apa-apa.

“Rita ngerti Ma, Rita ini udah dewasa. Rita bukan lagi anak kecil yang harus dikuntit, yang harus diawasi dengan ketat. Bukan lagi anak tk yang harus selalu bersama mamanya untuk pergi ke mana-mana. Bukan lagi anak SD yang harus dapat izin dari mamanya untuk bisa sekedar main di rumah teman beda komplek. Bukan lagi remaja tanggung yang masih bingung dengan jalan pikir dan sikap. Rita udah dewasa Mah…!”. Rita tau mana yang bener dan mana yang salah…!”, kata-kataku meluncur deras, tak kuberikan sedetikpun mamaku mendapat giliran bicara.

“Mama yang ngga ngerti apa-apa. Sikap mama berlebihan, apa mama tahu itu?”, entah setan mana yang merasuki pikiranku, deretan kata yang kusimpan apik didalam hati mengalir deras malam itu. Mamaku mematung, dan aku senang melihatnya kalah seperti itu, “Sekali ini saja biarkan aku menuturkan semuanya, Ma”, batinku membela diri.

“Tolong Mama percaya sama aku…!”, belum sempat aku melanjutkan kalimat lainnya, ayah datang memotong. Ayah yang sejak tadi hanya duduk saja di depan TV, mendengarkan pertengkaranku tanpa ada keinginan untuk ikut bergabung, paling tidak memberikan pendapatnya, menariku keluar dari ruang keluarga dan memaksaku masuk ke kamar. “Kalau Rita mau nge-kos, ya udah nge-kos aja”, itu kata-kata ayah sebelum akhirnya ia menutup pintu kamar. Yess, aku menang.

***

Satu hari berlalu sejak kejadian malam itu, mama belum juga meneleponku. Aku tenang.

Dua hari berlalu, mama belum juga meneleponku. Aku senang.

Tiga hari berlalu mama masih belum juga meneleponku. Aku mulai menikmati hidup baru sebagai anak kos yang mandiri.

Satu minggu berlalu, hidupku sebagai anak kos mulai teratur. Lebih sering kumpul dengan teman-temanku. Mulai merasa hidup dan merasa mandiri. Ini hidup yang aku mau.

Satu bulan, agak sedikit heran belum ada kabar dari rumah, tapi masih enggan untuk memulai komunikasi. Biarlah, sebentar lagi juga mama bakalan telepon.

Tiga bulan berlalu, ini rekor!! Sudah tiga bulan mama tidak menguntitku lewat sms atau telepon. Tidak ada kabar sama sekali, aku senang, mungkin mama sudah mulai berubah. Namun, aku terlalu angkuh untuk mengakui bahwa aku rindu dengan sms dan telepon mama, hanya sesekali.

“Kringgg…..!!”, handphone-ku berbunyi, di layar tertera “Mama XL”. “Tuh Kan…!”, pikirku menang sambil tersenyum. Saat kuangkat telepon, suara yang muncul bukan suara mama, melainkan suara ayah. Tidak seperti biasanya, suara ayahku bergetar, sesekali menarik nafas, mencoba membuat teratur suaranya yang terbata-bata. Setelah ayah menyelesaikan kalimatnya, aku tertegun.

***

(#)Rita sudah Dewasa, umurnya sekarang dua puluh tiga. Sekarang dia sudah bekerja dan juga sudah punya pasangan, mungkin satu atau dua tahun lagi akan menikah dan meninggalkanku berdua saja dengan ayah. Kalau Rita tidak keberatan, aku akan memintanya untuk tinggal di rumah setelah menikah, tapi aku ragu Rita akan setuju.

 

(#)Hari ini hari terakhirku mengajar. Umurku sudah tidak muda lagi, meskipun sejujurnya, semangatku jauh lebih baik dibandingkan guru muda yang akan menggantikanku nanti. Tapi ini kontrak mati, pensiun adalah sebuah keharusan. Semoga aku tidak mati kebosanan di rumah nanti, Amin.

 

(#)Selalu ada hikmah dibalik peristiwa. Ini adalah kesempatanku untuk menjadi Ibu seutuhnya untuk Rita. Selama ini, aku sibuk bekerja, memperhatikannya sesekali saja. Mulai saat ini aku ingin lebih dekat dengannya, memperhatikannya, mengembalikan perhatianku padanya yang dulu tersita pekerjaan. Sebelum ia pergi dan membentuk keluarganya sendiri, membuat jarak kami semakin besar saja.

 

(#)Aku menelpon Rita tadi siang, tapi dia hanya menjawabku singkat saja. Mungkin Rita sedang sibuk. Lain kali aku bisa bercerita panjang lebar dengannya, aku rindu sama Rita.

 

(#)Rita mungkin sedang sibuk, aku benar-benar rindu padanya. Aku sms tidak dibalas, maka aku putuskan untuk meneleponnya, tapi aneh, Rita tidak banyak bicara. Sebenernya banyak hal yang ingin aku bagi dengan Rita. Tentang tanaman hias yang baru saja kubeli dari Pak Ujang. Tentang pohon cabai yang baru saja aku tanam. Tentang resep masakan yang berhasil aku taklukan. Tentang rajutan yang sedang aku pelajari. Oh iya, kalau sudah jago merajut, aku mau membuatkan Rita sweater. Nanti kalau Rita sudah punya anak, aku juga mau buatkan baju hangat yang lucu-lucu untuk mereka. Love you Rita. Always.

…..

Mataku mengembun, pipiku basah. Kenapa Rita, kenapa tidak pernah terpikirkan hal ini sebelumnya…?

(#)Rita marah padaku. Dia bilang, “Kayak anak kecil saja”. Ayah bilang, mungkin sikapku terlalu berlebihan. Aku membela diri. Aku bukannya berlebihan. Aku hanya ingin memberi perhatian. Aku ingin berlama-lama bercengkrama dengan anakku sendiri. Aku ingin mendengar kisahnya. Dan aku ingin dia mendengar kisahku. “Apa aku salah, Ayah?”, tanyaku pada suamiku, orang yang paling setia mendampingiku, susah ataupun senang. Ayah diam saja waktu itu, aku sebal dengan sikapnya yang tidak membelaku. “Apa salah jika aku ingin dekat dengan anakku? Apa aku salah jika mengkhawatirkannya? Dimana letak kesalahannya????”. Ayah menjawab dengan singkat, “Coba ubah sedikit caranya, lebih manis, Ma…”. Aku berdamai, baik, aku akan bersikap lebih manis lagi.

…..

(#)Hari ini ulang tahunku. Kira-kira Rita kasih aku kado apa ya?

Ingatanku tersedot kembali ke masa lalu. Waktu itu, emosiku masih ada di puncak. Aku masih sebal dengan sikap mama yang memperlakukanku seperti anak kecil dihadapan teman kerjaku. Aku memilih menginap di kosan Icha saat itu dan melewatkan ulang tahun mama. Buliran halus mengaliri pipiku, asin terasa dibibir, dan perih menusuk-nusuk di hati.

(#)Rita marah besar padaku. Ayah benar, mungkin caraku memperhatikannya salah. Mungkin aku berlebihan. Rita benar, aku tidak mengerti apa-apa tentang dirinya. Aku sedih, benar-benar sedih.

Dan tulisan mama berhenti setelah kejadian malam itu. Aku mematung.

***

Bayu mendekapku erat, aku hanya diam saja. Air mataku sudah tidak keluar lagi. Mataku sudah tidak menangis lagi. Ya, mataku memang sudah berhenti menangis sekarang, tetapi bagian tubuhku yang lain masih menangis. Sakitnya berkali-kali lipat. Penyesalan menggunung, berat. Dadaku sesak. Rasanya ingin membekukan waktu, kembali ke masa-masa itu. Akan kudengarkan semua cerita ibu tentang tanaman hias yang dibelinya dari mang Ujang. Akan kubantu dia merawat tanaman-tanaman itu setiap libur kerja. Akan kucoba semua masakan terbarunya, mungkin ikut memasak bersama. Aku aku kujawab semua pertanyaannya dengan jawaban terbaikku. Akan kudengarkan semua kisahnya, tentang dirinya, tentang murid-muridnya, tentang ayahku yang suka menggodanya, tentang semuanya. Akan kubagi setiap detil kebahagiaanku padanya. Akan kuisi kesepiannya dengan kebersamaan kami. Andai aku tahu semua akan secepat ini. Andai aku tahu rasa sakitnya akan seperti ini…

 

Hanya ingin, kunyanyikan, senandung dari hatiku untuk mama

Hanya sebuah lagu sederhana, lagu cintaku untuk mama..(Kevin)

Jum’at 4 November 2011

Selamat hari ini J

***

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements
 
Leave a comment

Posted by on November 4, 2011 in Uncategorized

 

I ♥ U

Selasa pagi yang cerah, secerah warna baju yang saya pakai sekarang ini 🙂 . Hari cerah, baju cerah, akan sia-sia kalau hati dan pikirannya ga ikutan cerah, oleh karenanya diantara segudang rasa sedih, sebal, kesal, dan komplikasi rasa tidak menyenangkan lainnya, yang masih tertinggal di lubuk hati terdalam, mari kita cerahkan hati dan pikiran masing-masing, merdekaaaa…!!!

 

Seperti biasa, jam-jam segini adalah jam sibuk di kantor manapun kecuali kantor-kantor yang jualan makanan (read : warteg, restoran, dan tempat jajajan lain) karena kantor-kantor itu baru sibuk di jam-jam makan/istirahat (kecuali kokinya kali ya :)). Saya juga sedang sibuk sebenarnya hari ini (tepatnya mencari kesibukan sendiri biar ga makan gaji buta, hehe) tapiiiiii diantara kesibukan yang dicari-cari sendiri ini, saya pengen korupsi waktu sebentar (cuma sebentar ko pak bos :)).

 

Well, sampai beberapa menit lalu belum ada hal istimewa yang saya temukan sampai akhirnya saya ga sengaja ngintip ke ruang big bos nomer sekian, yang ruangannya tepat ada di depan meja kerja saya, dan ga sengaja mata saya bertumbukan dengan selembar kertas yang diduga kertas concord (karna saya ga pegang langsung kertasnya ya), berwarna krem, dihiasi gambar hati berwarna pink, dengan tulisan dan ilustrasi gambar (sebenernya pengen banget nge-scan dan di attach gambarnya di tulisan ini, tapi apa daya, itu punya orang :)) seperti berikut ini :

 

                                                                          To        : Ayah

                                                                          From   : Amay

                                                                                ♥Ayah

 

Ilustrasi gambar : Gambar hati, warna pink. Hatinya dibuat seperti sedang tersenyum. Di samping gambar hati ada deretan huruf yang membentuk kata ”Ayah”. Setiap huruf dibingkai dalam kotak-kotak yang garis pinggirnya diberi warna hitam sedangkan isi kotaknya diberi warna merah (A), oranye (y), kuning (a), dan coklat (h)  (agak ragu, ga keliatan banget warna yang terakhir ini). Huruf ayah diberi warna hitam pekat sehingga terlihat jelas diantara warna-warna mencolok tadi.

 

So sweet ya.

 

Saya baru ingat, kertas semacam itu pernah juga saya temukan di meja kerja rekan lainnya. Potongan kertas dengan warna mencolok, kreasi khas anak-anak menghiasi meja kerja yang penuh dengan tumpukan kertas kreasi khas orang dewasa (read : materi kerjaan yang segambreng). Dan sepertinya, iklan susu pertumbuhan dengan tema serupa bukan cuma sekedar tentang iklan jualan susu. (Haaa?? Hubungannya apa ama iklan susu).

 

Kalau ga salah, dulu pernah ada iklan susu (ga usah sebut merek) dimana ceritanya itu si anak (yang tentunya diceritakan rutin minum susu xxx), setiap hari nyelipin macem-macem kertas kreasi buatannya ke dalam tas kerja mamanya. Anak itu nyelipin kertas-kertas tersebut dengan sembunyi-sembunyi dan sambil malu-malu.

 

Kertas kreasinya itu isinya macem-macem, tapi tetap satu tujuan — I Love you Mom —. Cuma itu intinya, tapi efeknya ga Cuma sesimpel itu. — My world, my everything… — Lagu yang merefleksikan ekspresi si ibu saat melihat selipan-selipan anaknya itu di kantor. 

 

Cerita itu ga sekedar iklan yang menyampaikan pesan ”Kalo minum susu xxx anak jadi cerdas, pintar, dan kreatif” tapi lebih dari itu. Ini tentang ekspresi rasa sayang, ekspresi cinta. Manteppp dah… 🙂

 

Ekspresi spontan, simpel, tapi tulus dari orang yang disayang dan orang yang sayang ke kita merupakan obat mujarab untuk menghilangkan kejenuhan, kepenatan, kemarahan, dan ke-an lain yang tidak menyenangkan lah pokoknya. Melihat tulisan acak-kadul-an ya ga ada indah-indahnya, tetapi dibuat dengan rasa sayang, membuat orang yang melihatnya meng-impor aura-aura menyenangkan dibalik kertas yang acak-kadulan itu (kalo ekspresinya dibuat dalam bentuk kertas ya).  Manis, manis, manis…..

 

Dan saya pun melirik meja kerja saya yang kosong melompong tanpa tempelan apapun kecuali tempelan post it kuning yang mirip penangkal vampire di film-film China jaman dulu kala. Dan saya merindukan saat-saat menyenangkan itu, saat dimana anak saya nanti nyelipin kertas-kertas hasil kreasinya ke tas kerja saya, dan lagu my world, my everything mengudara saat saya melihatnya. Manis :).

 

 

Dan bila mentari esok kan bersinar lagi

Kuingin candamu warnai hariku

Dan bila esok kau tiada hadir temaniku

Tak terbayangkan setengah mati kehilanganmu…Ada Band-Manja

 
2 Comments

Posted by on October 4, 2011 in Corat-coret

 

Terlanjur Season 1

Pada kenyataannya yang perlu dilakukan adalah menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai dengan sebaik-baiknya, meskipun sesuatu hal itu adalah sebuah keterlanjuran yang sebenarnya tidak diinginkan.

 

Keterlanjuran bukanlah suatu hal yang perlu disesali”, seorang teman menuliskan kalimat tersebut di salah satu tulisannya. Yup, keterlanjuran bukanlah suatu hal yang perlu disesali, tetapi suatu hal yang perlu diselesaikan, yang mungkin saja diselesaikan dengan membuat keterlanjuran-keterlanjuran berikutnya, yang faktanya baru akan disadari sebagai sebuah “Keterlanjuran” setelah hal-hal yang dianggap sebagai “Keterlanjuran” itu terjadi, hehe ribet juga ya.  Tapi, semoga saja sebuah keterlanjuran bisa diselesaikan dengan baik tanpa melibatkan keterlanjuran-keterlanjuran berikutnya, yang pada akhirnya akan membuat siklus hidup “Terlanjur” itu berlanjut bak lingkaran setan yang terus-menerus menggandeng tangan selama kurun waktu hidup yang kita punya. Ribetnyaaa selangit…!!! Astagfirullah, bukan #sesuatu banget pemirsah sadayana.

 

Well, mari abaikan tulisan geje di atas dan mari beralih ke tulisan geje berikutnya, hehe.

Iseng-iseng, saya coba men-search makna kata “Terlanjur”, dan berikut hasil penelusuran yang saya peroleh.

 

1.Terlewat dari batas atau tujuan yg ditentukan; Terlanjur: sedianya ia hendak turun di stasiun Gambir, tetapi — sampai ke Sawah Besar.

 

Sebagian besar orang pasti pernah mengalami jenis keterlanjuran seperti di atas. Dalam kondisi urgen seperti ada rapat penting di kantor, ato ada ujian dengan pengawas super duper galak dimana galaknya melebihi guk-guk Helder yang seremnya minta ampun, ato dalam kondisi ada teman/keluarga/orang-orang terdekat sakit, ato dalam kondisi terdesak lainnya, kejadian yang terlihat bodoh itu pastinya akan merangsang nafsu untuk ngegebukin orang yang persis ada didepan mata, cumin karena bisa terkena pasal penganiyaan dengan hukuman yang tidak menyenangkan, nafsu itu dialihkan dengan merutuki ato membego-bego-kan diri sendiri. Dalam kondisi tidak urgen, efeknya mungkin lebih santai sedikit, tapi pastinya membego-bego-kan diri sendiri tetap akan terjadi 🙂 (Didasarkan pada pengalaman pribadi soalnya , hehe).

 

Kalo udah begini gimana dong ?!?!?!?! Jawabnya adalah : Menyelesaikan keterlanjuran yang sudah terjadi misalnya dengan naek kereta balik ke stasiun Gambir, ato naek taksi/ojek/kopaja/alat transportasi lain untuk balik ke stasiun gambir dengan memastikan tidak terjadi keterlanjuran yang kedua, ketiga, dan seterusnya. Rebes kan. Dengan keterlanjuran model ini, kerugian yang diperoleh yaitu kerugian waktu dan uang. Tapiii hellloooo, sebenernya ada keuntungan yang didapet juga lo. Pertama, buat yang belum pernah ke Stasiun Sawah Besar dan ga tahu stasiunnya kayak apa, jadi pernah ke Stasiun Sawah Besar kan? Pengalaman nih, siapa tahu besok2 kita/saudara/tetangga ada yang mau ke stasiun ini, jadi saat ada yang nanya soal stasiun ini, kita bisa kasih info (dengan catatan ga membeberkan keterlanjuran yang terjadi tentunya, gengsi dong ah J). Kedua, untuk yang sudah pernah ke Stasiun Sawah Besar, jadi lebih tau lagi tentang stasiun ini. Ketiga, untuk yang memutuskan naek alat transportasi lain seperti ojek/taksi/kopaja, bisa dapet pengalaman lain sepanjang perjalanan Sawah Besar-Gambir. Yah, mungkin terlihat sok bijaksana, tapi kenyataannya memang seperti itu, kalau saja mau melihat dari sisi lain yang lebih positif.

 

Mungkin, untuk mencapai tujuan tertentu, kita akan menghadapi keterlanjuran-keterlanjuran yang akan memperjauh jarak tempuh, hanya memperjauh, bukan menghilangkan tujuan. Ga peduli seberapa jauh jarak yang ditempuh karena sebuah keterlanjuran, yang penting kendali tetap mengarah pada tujuan itu. Dan pada akhirnya nanti, keterlanjuran itu akan menjadi salah bumbu manis dalam perjuangan hidup.. Cwiwwww…!!

 

Panjang lebar kali tinggi, kalo diulang baca lagi, saia jadi pusing sendiri…..Hehehehe

Next, hasil penelusuran kedua.

 

Hasil penelusuran keduanya mana??? Nanti, berhubung otak udah mandeg buat nulis, maka diputuskan untuk melanjutkan tulisan ini nanti, kalo inget, kalo ngga inget ya udah berarti tulisannya berenti sampe sini.

 

Have a nice weekdays and weekend 🙂

 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2011 in Corat-coret

 

Kagum dengan Arsitek

Cibinong, 28 Agustus 2011

Pernah lewat jalan tol? Kalau saya pernah, selalu deg-deg-an saat bis yang saya tumpangi melewati jalan tol dengan kecepatan tinggi, apalagi jalan tol yang bertingkat-tingkat, berada di ketinggian tersebut membuat perut mules, dan mulut ga berhenti komat-kamit… Suerr, takut banget tapi sangat menikmati, terutama menikmati desain yang kelihatannya sederhana tapi yakin, susah banget untuk membuatnya (Ga semudah bikin jalanan dari tumpukan batu-bata saat kecil dulu…suerr!!).

Pernah masuk gedung-gedung pencakar langit dengan desain yang elegan? Bukannya sombong (kalo sombong jitak aja), saya pernah. Pertama kali masuk ke gedung elegan itu yaitu saat saya diundang interview oleh salah satu perusahan riset di Jakarta sana. Ke-ndeso-an pun menghampiri saya yang memang sejak kecil tinggal di desa (read : Cibinong). Saya terkagum-kagum dengan desain gedungnya, dengan ketinggian gedungnya, dengan interior yang menempel di setiap jengkal sudutnya, ruarr biasa…(Untung waktu itu masih sadar diri, ga pake mangap plus foto2 kayak paparazzi norak yang ngejar-ngejar artis pujaannya, hehe).

Pernah lihat rumah-rumah dengan desaign elegan, minimalis, atau mediterania, atau desain tanpa nama dengan detil dan interior yang bikin mata berkaca-kaca karena terharu plus sedih karna ngerasa belum mampu membeli dengan hasil jerih payah sendiri? Saya jawab, pernah. Dulu sebelum saya kerja, saya sering nonton Griya Unik yang menampilkan rumah-rumah dengan desain unik yang sumpah bikin ngiler banget dan membuat saya berkhayal untuk mempunyai rumah idaman yang mirip seperti di tivi. Seiring waktu berjalan, setelah saya bekerja, saya semakin dibuat ngiler dengan iklan-iklan perumahan yang tiap hari saya lewati. Rumah-rumah minimalis nan elegan sepertinya sedang ber-pamer-pamer ria dihadapan saya yang mau ga mau harus melewati mereka dengan mulut sedikit nganga dan dada sedikit naik turun (tarik nafas dan buang nafas). “Kapan bisa punya rumah seperti itu…???”

Pernah masuk Istiqlal yang Subhanallah, bagus banget bangunannya, setiap detil benar-benar dibuat dengan perhitungan yang ga asal-asalan…Saya pernah sekali dan sekali itu juga langsung merinding, jatuh cinta. Saat itu, tiba-tiba aja otak saya melayang jauh ke Rumah Allah yang jaraknya puluhan ribu kilo itu, Mekkah, Masjidil Haram. Saat menginjak kaki di Istiqlal, saat itu juga saya rindu menginjak kaki di Mekkah sana (ini serius, bukan kelebay-an atau semacamnya). Saat itu saya berpikir, “Istiqlal saja sebagus dan se-merinding ini, apalagi disana…Subhanallah ”.

Dam segambreng karya arsitektur lainnya…(Sungguh sangat ingin melihat lebih jauh karya-karya lainnya).

Pastinya setiap dari kita pernah menemukan bukti kerja arsitek yang membuat diri pribadi berdecak kagum. Setiap melewati jalan tol, underpass, jalan layang, saya selalu berpikir, “Gilaaaa, siapa sih yang “bikin” ni jalanan…??”. Saya selalu kepikiran, gimana caranya nih arsitek bikin rancangannya, terus ngelakuin perhitungan dengan kondisi lapangan, ngelakuin ini itu, milih material ini itu yang ngedukung terlaksananya sebuah proyek jalan ton. Belakangan saya tahu, di biro arsitek itu memang ada bagian perencanaan (yang bikin desain), bagian QS (lapangan), dsb. Jadi, terciptanya sebuah jalan tol bukan karna kerja 1 orang saja, tapi banyak orang. Meskipun begitu, saya tetep kagum sama arsiteknya, sama seseorang yang sudah merencanakan dengan jenius pembuatan jalan tol (maaf ya, agak berlebihan kayaknya, hehe). “Arsitek itu hebattt…!!”

Begitu juga saat saya memasuki gedung-gedung tinggi yang elegan nan rupawan, saya selalu berpikir, gimana rancangan yang dulunya hanya tersketsa di selembar kertas bisa menjadi sebuah gedung yang tingginya ampun-ampunan, interior yang menarik, goresan-goresan pensil itu berubah wujud menjadi sebuah gedung/rumah yang indah banget. Arsitek dan arsitektur itu keren yahhh. Kenapa ya dulu ga cita-cita jadi arsitek aja? (Jawab : Tahu dirilah, gambar gunung aja mencong-mencong ga karuan, masa berani ngimpi jadi arsitek, ga nyambung lah, hehe).

Intinya, saat ini saya sedang kagum dengan arsitek dan arsitektur, kalau ada kesempatan, mudah2an bisa berkeliling menikmati hasil karya para arsitek yang ga hanya ada di dalam negeri tapi juga di luar negeri, amin. (Lagi ngebayangin arsitektur eropa sana, yang kayaknya bener-bener kejaga nilai sejarahnya, hehe).

Kalau di runut lebih dalam lagi, Arsitek dari arsiteklah yang paling hebat. Setiap detil yang ada di dunia ini, dibuat dengan bentuk yang sebaik-baiknya, dengan detil yang tidak kurang sedikit pun, sempurna. Semoga kita bisa menjadi orang yang bersyukur 🙂

 
2 Comments

Posted by on August 28, 2011 in Uncategorized

 

Lagu Burung Camar

“Burung camar, tinggi melayang
Bersahutan, di balik awan
Membawa angan-anganku jauh meniti buih
Lalu hilang larut di lautan”

Kamis pagi yang cerah. Langitnya biru terang, ditemani gumpalan awan putih bagai kembang gula, manis. Cahaya matahari pelan-pelan menembus pori-pori kulit, memberikan rasa hangat yang menyenangkan, menghilangkan dingin yang perlahan mengendap.

“Momen itu tidak bisa dibeli, noted.” Sekaya apapun orang itu, sehebat apapun dia, sekuat dan seterkenal apapun mereka, tidak pernah bisa membeli sebuah momen. Sama halnya dengan pengalaman, ga ada yang bisa membeli sebuah pengalaman. Terkesan sok tahu memang, tapi ya biarlah (suka-suka aja )

Gw selalu suka, naik kereta dari stasiun Depok Lama. Selain karena jaraknya yang lebih deket dari rumah, banyak hiburan dan pelajaran gratis yang gw dapatkan di sana. Mulai dari dua pengamen remaja tanggung, dengan gitar dan suara serak-serak becek bak penyanyi terkenal yang ga bisa gw sebutin namanya karena tiba-tiba otak nge-blank, kumpulan anak-anak rastaman (koreksi kalo salah sebut), dengan rambut gimbalnya, plus gitar, plus biola, plus gendang khas yang gw lupa namanya apa itu, yang selalu membawakan lagu-lagu jadul tapi tetep enak kedengeran di kuping (paling suka saat instrumen biola dimainkan, manis dan romantis banget, asli..!!), tukang getuk yang semakin hari semakin subur badannya, yang mungkin disebabkan oleh senyum yang selalu dikembangkannya, tukang VCD bajakan yang selalu memutarkan lagu-lagu asik di telinga gw (meskipun asik, gw ga beli bajakannya ko ), dan segambreng hiburan lain yang ga bisa disebutin satu per satu. Melihat itu semua membuat gw berpikir, “That is priceless moment”.

Banyak orang yang berada di tempat yang sama dengan gw saat ini, sama-sama di stasiun Depok Lama, tapi momen yang didapat beda-beda, dan tentunya setiap dari kita menangkap momen yang unik, saling bebas satu sama lain, tergantung dari sudut pandang mana momen itu tertangkap. Argh…agak banyak ngelantur emang, tapi ya biarin aja lah ya, hehe.

Pagi ini, gw beruntung telat bangun yang berujung pada telat naek kereta. Tanya kenapa? Karena dengan telat naek kereta, gw bisa menikmati momen-momen yang gw sebutkan di atas, yang udah hampir tiga mingguan terlewat. Yap, tiga minggu terakhir, gw selalu berangkat pagi, ngejar kereta jam setengah tujuh, which is keretanya cuma mampir sebentar di Depok Lama, plus penuh, plus gw ngantuk. Karna Cuma mampir sebentar, pedagang, pengamen, dan pe-an lainnya, cuma sebentar doang mampirnya. Dan berhubung gw ngantuk, ga ada waku buat memperhatikan sekeliling, sekali dapet duduk, langsung molor. Mungkin, hal ini juga yang membuat hidup gw ga seasik biasanya.

Anak-anak rastaman, tukang getuk, lagu-lagu dari lapak VCD bajakan, sempurna menghibur gw pagi ini. Gw seperti berada di ruang teater dengan beragam pertunjukan. Dan satu hal yang harus diingat, di dalam teater itu, cuma ada gw sendiri, karena tiap-tiap orang di tempat ini, punya ruang teaternya masing-masing. Duh, lebay banget ya??? Tapi lagi-lagi gw akan bilang, “Biarin aja lah ya, orang tulisan gw sendiri ini, hehe…!”.

Diantara segambreng pertunjukan tadi, satu hal penting yang gw lihat terutama dari anak-anak rastaman. “Mereka bebas, mereka menikmati musik yang mereka mainkan, mereka memberi jiwa pada tiap chord yang dilantunkan, dan gw bisa melihat, mereka menjadi diri mereka sendiri saat memainkan alat-alat musik itu”. Semua penilaian itu, seakan menyentil diri gw sendiri, membuat salah satu ruang di hati berkali-kali bertanya, “Menyenangkan bukan menjadi seperti itu?”. That’s the point dalam tulisan geje kali ini. Dan lagu burung camarpun menutup hiburan manis di Kamis Pagi ini, mengantarkan kembali jiwa-jiwa yang lelah untuk kembali bersemangat melewati hari panjang penuh tantangan.

“Oh bahagia, tiada terperi
Indah nian derap jiwaku
Tak kenal duka derita tak kenal nestapa
Ceria penuh pesona

Tiba-tiba ku tertegun lubuk hatiku tersentuh
Perahu kecil terayun, nelayan tua di sana

Tiga malam bulan tlah menghilang, langit sepi walau tak bermega

Tiba-tiba kusadari lagu burung camar tadi
Cuma kisah sedih nada duka, hati yang terluka
Tiada teman berbagi derita, bahkan untuk berbagi cerita…

Burung camar, tinggi melayang
Bersahutan, di balik awan
Kini membawa anganku yang tadi melayang
Jatuh dia dekat di kakiku”

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2011 in Uncategorized

 

Let it flow :)

Sabtu, 2 Juli 2011 :: 20.30 wib

Welcome July, and babay June. Welcome today, and babay yesterday. Welcome holiday and babay working days

Pagi-pagi banget gw udah online aja, maklum lima hari terakhir, gw kesulitan mengakses internet, terutama mengakses email dan situs jejaring sosial lainnya. Tanya kenapa dong..! . “Kenapa, Din..?!”. Ya, karena di kantor baru, ada batasan dalam mengakses internet. Kita cuma bisa buka google, kompas, Jakarta post, detik.com, dan situs2 lain yang jauh dari kesenangan2 pribadi seperti email, messenger, youtube, facebook, dan twitter. *Crying-crying…

“Hah..kantor baru..?!”. O ya, lima hari terakhir gw resmi tercatat sebagai new comer di salah satu perusahaan asuransi yang ada di ibukota. Tanggal 24 Juni adalah hari terakhir gw kerja di kantor lama. Meskipun berat karena harus berpisah dengan teman-teman di sana (to be honest, they are my second family in the office), life must go on. Keputusan udah dibuat, dan gw harus menjalani keputusan itu disertai konsekuensi-konsekuensi yang membayanginya. Salah satu konsekuensi itu adalah hilangnya kesenangan/hiburan yang biasanya gw dapatkan di tempat lama, yaitu bebas sepuasnya mantengin situs2 menyenangkan tadi. Ya, semua pasti ada hikmahnya, jadi stop complaining, *sok bijak :).

Okeh, tadi pagi setelah mengalami penolakan bertubi-tubi (mulai dari teman yang ga bales2 message, ato temen yang tiba-tiba offline, ato temen yang tiba-tiba idle), akhirnya gw menemukan teman yang bersedia diajak ceting dan itu artinya hasrat untuk ceting akhirnya tersalurkan juga (hehe, lebayyy…!!).

Setelah bertanya-tanya kabar, gw tiba-tiba mengajukan topik asal yang jujur bikin gw bertanya-tanya sendiri, “Kenapa ko tiba-tiba ngajuin topik itu ya..??!!”. (Hmm, analisa gw adalah, ada celah kecil dalam otak yang dikendalikan oleh alam bawah sadar. Pengendalian alam bawah sadar tersebut dipengaruhi oleh tumpukan2 rasa yang dipendam. Ketika tumpukannya sudah menggunung, maka dengan sendirinya, dia memicu reaksi-reaksi tak terduga seperti ini. Bingung?? Ya udah, lupain…!! hehe).

“Mba, Sharing dong…!”, tiba-tiba aja gw mengetikan kalimat itu dan dengan sukses membuat temen ceting itu bingung, “Sharing..? Sharing apaan…?!”. Saat ditanya mo sharing apaan, gw malah ketawa sendiri. “Iya ya, mo sharing apaan ya..??!”. Setelah mencoba berpikir jernih sedikit, akhirnya gw bisa mengungkapkan beberapa hal yang memerlukan masukan dari orang-orang bebas seperti dia, terlebih dia lebih senior, pasti pernah mengalami kegelisahan yang sama dengan yang saat ini gw rasain (sebuah penarikan kesimpulan yang sotoy, emangnye semua orang sama apa ya? Haha).

“Nikmati dunia baru lo. Walau mungkin di akhir ternyata bukan jodoh lo, setidaknya lo sdh tau ada dunia di luar sana..! Ketika lo sdh nyaman, itu tandanya lo hrs berubah. ‘Mind your steps’ and ‘watch your heads’, eksplore langkah yang lo ambil, dan tetep perhatikan kepala lo biar ga kepentok. Segala sesuatu, lo yg jalani, bukan orang lain…!!!”

Sekumpulan kata diatas adalah rangkuman percakapan panjang ngalor-ngidul kami tadi pagi (ngalor-ngidulnya tentu aja ada di pihak gw, hehe). Sengaja gw masukin di tulisan kali ini, siapa tahu bisa bermanfaat untuk orang-orang yang kebetulan baca tulisan labil ini. Jadi, meskipun labil, tetep ada poin yang bisa diambil .

Well, ada kegelisahan dalam hati yang sulit dijabarkan dengan kata-kata disini, tapi setelah sharing-sharing tadi pagi, ada pandangan baru yang membantu gw untuk melihat dari sisi lain, yang lebih bebas, berbeda, dan tentunya sisi yang lebih positif. Memang bener, kadang kita butuh masukan dari orang-orang bebas seperti dia, dan keputusan untuk sharing dengannya tepat . Thanks for share ya mba’e ..!

Jika hidup harus berputar, biarlah berputar :: Akan ada harapan sekali lagi..SO7

 
2 Comments

Posted by on July 2, 2011 in Corat-coret

 

Kemanapun angin berhembus :)

***Akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa,

Pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui…Puise Soe Hok Gie***

Sabtu, 25 Juni 2011 :: 7.07 pm

Hari Sabtu kali ini ga jauh beda dengan hari Sabtu sebelumnya, hanya menghabiskan waktu di rumah, istirahat, ngobrol dengan orang tua, menggoda dan berujung berantem dengan adik paling bungsu, menonton TV, atau sekedar ngenet-ngenet (tentunya sambil adu mulut dengan adik paling bungsu, maklum hanya ada 1 PC sekarang, jadi siapa cepat dia dapat :)).

Beberapa menit lalu, kedua orang tua gw pergi keluar. Akhir-akhir ini, mereka lebih sering keluar berdua, sekedar jalan-jalan santai, naik motor buatan Jepang yang harus segera di-upgrade, menghirup udara malam yang menyenangkan, menanggalkan sejenak beban-beban yang terkumpul selama satu minggu ini. Apalagi hal menyenangkan selain melihat keduanya senang? Jadi, biarpun sirik setengah mati karenanya, gw ikhlaskan keduanya ber-malam-minggu-an (ngelus dada, sabar, Din, sabar :)).

Dan akhirnya, yang tersisa di rumah hanya gw dan Fajar, anak termuda di rumah (saat gw menyalin tulisan ini ke komputer, tinggal gw sendiri di rumah, adik gw yang satu ini, baru aja keluar, maen bareng temen-temennya. Dan gw manyun sendiri di sini. O ya, adik gw yang kedua udah dari tadi sore ngelayap, entah ke mana dia pergi, yang jelas dia selangkah lebih maju dari kakaknya ini, huhu).

Well, untuk menyenangkan hati, gw ingin meng-quote kata-kata sendiri yang gw sampaikan ke temen kantor beberapa hari sebelum resign, “Yah, biarlah sendiri, toh pada akhirnya, kita hanya akan tinggal sendiri…”. Kata-kata mujarab untuk menghibur orang-orang desperado karena ditinggal sendirian kayak gw sekarang, hehehehe.

Banyak yang datang dan pergi. Setiap dari mereka meninggalkan jejak-jejak unik dalam hati. Menciptakan kompilasi rasa yang kaya. Dan pada akhirnya, gw hanya bisa bilang, “Alhamdulilah, thanks to the people that have coloured my life”. Tulisan ini adalah status FB yang gw tulis siang tadi sebelum tidur siang (siang tadi sebelum tidur siang, ribet juga ya kata-katanya :)). Beberapa hari terakhir, banyak hal yang gw pikirkan, dan semuanya terangkum dalam deretan kalimat tersebut.

Yap, Bersyukur selama hidup 23 tahun ini, gw dikelilingi orang-orang yang berkontribusi memberi warna dalam hidup ini. Memberikan pelajaran dan pengalaman. Berbagi suka, duka, tawa, tangis. Mentrasfer energi, semangat, berbagi mimpi, menularkan spirit-spirit yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Alhamdulilah. Orang-orang penuh warna ini, akan selalu terekam, kapanpun, dimanapun. Sampai nanti di ujung usia, warna-warna ini takkan pudar, (aduh, gombal banget ini yak, hehe). Dan di sisa hidup yang tidak terdefinisi ini, semoga semakin banyak warna yang ditemukan dan dilukiskan, amin J. Dan sebaliknya, semoga saja, di sisa hidup ini, gw bisa ikut berkontribusi memberikan warna positif ke orang-orang yang ada disekeliling.

Dan diakhir tulisan yang geje ini, gw ingin mengutip lagu Padi, Please enjoy this song 🙂

Kemanapun angin berhembus, menuntun langkahku

Memahat takdir hidupku disini

Masih tertinggal wangi yang sempat engkau titipkan

Mengarungi kisah hidupku ini

Meski ku terbang jauh, melintasi sang waktu

Kemanapun angin berhembus, kupasti akan kembali

 
Leave a comment

Posted by on June 25, 2011 in Corat-coret