RSS

Daily Archives: July 17, 2011

Lagu Burung Camar

“Burung camar, tinggi melayang
Bersahutan, di balik awan
Membawa angan-anganku jauh meniti buih
Lalu hilang larut di lautan”

Kamis pagi yang cerah. Langitnya biru terang, ditemani gumpalan awan putih bagai kembang gula, manis. Cahaya matahari pelan-pelan menembus pori-pori kulit, memberikan rasa hangat yang menyenangkan, menghilangkan dingin yang perlahan mengendap.

“Momen itu tidak bisa dibeli, noted.” Sekaya apapun orang itu, sehebat apapun dia, sekuat dan seterkenal apapun mereka, tidak pernah bisa membeli sebuah momen. Sama halnya dengan pengalaman, ga ada yang bisa membeli sebuah pengalaman. Terkesan sok tahu memang, tapi ya biarlah (suka-suka aja )

Gw selalu suka, naik kereta dari stasiun Depok Lama. Selain karena jaraknya yang lebih deket dari rumah, banyak hiburan dan pelajaran gratis yang gw dapatkan di sana. Mulai dari dua pengamen remaja tanggung, dengan gitar dan suara serak-serak becek bak penyanyi terkenal yang ga bisa gw sebutin namanya karena tiba-tiba otak nge-blank, kumpulan anak-anak rastaman (koreksi kalo salah sebut), dengan rambut gimbalnya, plus gitar, plus biola, plus gendang khas yang gw lupa namanya apa itu, yang selalu membawakan lagu-lagu jadul tapi tetep enak kedengeran di kuping (paling suka saat instrumen biola dimainkan, manis dan romantis banget, asli..!!), tukang getuk yang semakin hari semakin subur badannya, yang mungkin disebabkan oleh senyum yang selalu dikembangkannya, tukang VCD bajakan yang selalu memutarkan lagu-lagu asik di telinga gw (meskipun asik, gw ga beli bajakannya ko ), dan segambreng hiburan lain yang ga bisa disebutin satu per satu. Melihat itu semua membuat gw berpikir, “That is priceless moment”.

Banyak orang yang berada di tempat yang sama dengan gw saat ini, sama-sama di stasiun Depok Lama, tapi momen yang didapat beda-beda, dan tentunya setiap dari kita menangkap momen yang unik, saling bebas satu sama lain, tergantung dari sudut pandang mana momen itu tertangkap. Argh…agak banyak ngelantur emang, tapi ya biarin aja lah ya, hehe.

Pagi ini, gw beruntung telat bangun yang berujung pada telat naek kereta. Tanya kenapa? Karena dengan telat naek kereta, gw bisa menikmati momen-momen yang gw sebutkan di atas, yang udah hampir tiga mingguan terlewat. Yap, tiga minggu terakhir, gw selalu berangkat pagi, ngejar kereta jam setengah tujuh, which is keretanya cuma mampir sebentar di Depok Lama, plus penuh, plus gw ngantuk. Karna Cuma mampir sebentar, pedagang, pengamen, dan pe-an lainnya, cuma sebentar doang mampirnya. Dan berhubung gw ngantuk, ga ada waku buat memperhatikan sekeliling, sekali dapet duduk, langsung molor. Mungkin, hal ini juga yang membuat hidup gw ga seasik biasanya.

Anak-anak rastaman, tukang getuk, lagu-lagu dari lapak VCD bajakan, sempurna menghibur gw pagi ini. Gw seperti berada di ruang teater dengan beragam pertunjukan. Dan satu hal yang harus diingat, di dalam teater itu, cuma ada gw sendiri, karena tiap-tiap orang di tempat ini, punya ruang teaternya masing-masing. Duh, lebay banget ya??? Tapi lagi-lagi gw akan bilang, “Biarin aja lah ya, orang tulisan gw sendiri ini, hehe…!”.

Diantara segambreng pertunjukan tadi, satu hal penting yang gw lihat terutama dari anak-anak rastaman. “Mereka bebas, mereka menikmati musik yang mereka mainkan, mereka memberi jiwa pada tiap chord yang dilantunkan, dan gw bisa melihat, mereka menjadi diri mereka sendiri saat memainkan alat-alat musik itu”. Semua penilaian itu, seakan menyentil diri gw sendiri, membuat salah satu ruang di hati berkali-kali bertanya, “Menyenangkan bukan menjadi seperti itu?”. That’s the point dalam tulisan geje kali ini. Dan lagu burung camarpun menutup hiburan manis di Kamis Pagi ini, mengantarkan kembali jiwa-jiwa yang lelah untuk kembali bersemangat melewati hari panjang penuh tantangan.

“Oh bahagia, tiada terperi
Indah nian derap jiwaku
Tak kenal duka derita tak kenal nestapa
Ceria penuh pesona

Tiba-tiba ku tertegun lubuk hatiku tersentuh
Perahu kecil terayun, nelayan tua di sana

Tiga malam bulan tlah menghilang, langit sepi walau tak bermega

Tiba-tiba kusadari lagu burung camar tadi
Cuma kisah sedih nada duka, hati yang terluka
Tiada teman berbagi derita, bahkan untuk berbagi cerita…

Burung camar, tinggi melayang
Bersahutan, di balik awan
Kini membawa anganku yang tadi melayang
Jatuh dia dekat di kakiku”

 
Leave a comment

Posted by on July 17, 2011 in Uncategorized

 
 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.